Senin, 02 April 2012

Membuat Bunga Dari Kertas Bekas


Mengajari anak untuk berkreasi perlu dilakukan oleh orang tua sejak dini. Sebab jika sudah menjadi kebiasaan yang baik, maka hal itu bisa menjadi bekal anak saat dewasa. Mengajak anak berkreasi juga akan mengembangkan otak kanan anak. Selain itu, kemampuan berkreasi sejak dini dapat menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Tidak sedikit pengusaha yang sukses saat ini karena kemampuannya berkreasi.

Kreasi yang dapat diajarkan kepada anak adalah membuat sesuatu dari bahan yang tidak terpakai. Kreasi kertas misalnya. Dengan sentuhan kreatif, maka kertas yang sudah tidak terpakai di rumah dapat menjadi hiasan bunga kertas untuk lampu tidur di kamar anak.


Bahan yang diperlukan adalah kertas dan lem. Pilihlah kertas yang agak tebal seperti bekas undangan, sisa bungkus kado, atau bahan kertas yang ada di rumah anda. Ajak serta anak untuk membuat bunga dari kertas bekas untuk hiasan lampu tidur.

Seperti yang terlihat di gambar, Guntinglah kertas membentuk lingkaran. Ukurannya bisa disesuaikan dengan kemauan bunda. Kemudian gunting kertas membentuk spiral dari sisi luar hingga ke tengah lingkaran. Lebar guntingan spiral diusahakan diatas 2 cm. Bimbinglah anak saat menggunting kertas. Sebab resiko luka dapat terjadi jika tidak hati-hati menggunakan gunting yang tajam.

Setelah di dapatkan bentuk spiral atau lebih mirip bentuk obat nyamuk bakar, ambillah ujungnya dan lipatlah ke dalam sehingga membentuk gulungan kecil. Gulunglah kertas sampai pada ujung satunya seperti telihat pada gambar. Jangan lupa merapikan bentuknya hingga menyerupai kuntum bunga mawar. Setelah itu rekatkan dengan menggunakan lem. Tunggu sampai kering. Maka jadilah satu kuntum bunga dari kertas bekas.

Buatlah kuntum bunga sampai jumlahnya cukup untuk hiasan pada lampu tidur. Rekatkan dengan lem pada tepi lampu tidur anak. Bunda juga dapat memvariasikannya dengan bunga-bunga kecil. Ide menempelkan hiasan bunga dari kertas bisa juga diterapkan di barang-barang yang ada di kamar anak. Selamat berkreasi.

Mengajak Anak Membuat Pancuran Air Pribadi


Kalau anda tidak sempat mengajak anak ke tempat hiburan pemandian alam atau water park, jangan berkecil hati. Bagaimana kalau kita berkreasi membuat taman air sendiri di pekarangan dengan biaya yang murah. Kita namakan kreasi ini adalah "Gerbang Air Istimewa".

Lewat permainan pancuran ini anak dapat bermain, berlari dan menikmati suasana basah bersama teman. Bahan yang digunakan hampir sepenuhnya adalah pipa PVC yang mudah didapatkan di toko bangunan. Selain murah, hasil kreasi ini bisa bertahan lama bahkan bisa di bongkar pasang jika sudah tidak dipergunakan lagi.

Seperti pada gambar, perakitan dan pengerjaan "Gerbang Air Istimewa" ini memerlukan bantuan dari ayah. Sebab dibutuhkan sedikit keahlian pertukangan. Bincanganak hanya memberikan ukuran standar untuk memotong pipa. Dengan melihat ukuran badan sang anak dan luas lahan yang tersedia, maka anda boleh berkreasi sendiri berapa panjang pipa yang dibutuhkan.

Bahan lain yang dibutuhkan adalah sambungan pipa PVC. Dari gambar dapat terlihat dibutuhkan sambungan siku sebanyak 7 buah, sambungan tiga sebanyak 12 buah dan sambungan empat sebanyak 3 buah. Serta penutup pipa dua buah. Untuk lengkungan gerbang dapat dipergunakan selang air yang dibengkokkan. Setelah dirakit, bocorlah pipa PVC sesuai keinginan, tetapi usahakan agar semprotan air ke arah dalam gerbang. Tujuannya agar area yang basah hanya ketika anak berada di dalam gerbang air.

Untuk penyambungan pipa boleh menggunakan selotip sambungan pipa. Itu jika pancuran air ini nantinya akan di bongkar-pasang. Kalau ingin dibuat permanent maka gunakanlah lem sambungan pipa. Nah selamat berkreasi.

Berenang Untuk Meningkatkan Kesehatan Anak


Saat berenang dan menyelam, tubuh anak akan mengalami tekanan cukup kuat pada permukaan tubuh. Itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan sirkulasi darah, juga memfasilitasi kerja jantung. Air meningkatkan tekanan di dada, yang mengharuskan menarik napas dalam-dalam, dengan demikian menyediakan ventilasi yang baik pada jaringan paru-paru.

Saat berenang dan terjadi inhalasi pernafasan dalam, maka seluruh permukaan paru-paru, organ, jaringan dan darah akan menerima sejumlah besar oksigen yang memperbaiki proses metabolisme. Selain itu, air memiliki efek memijat pada tubuh anak, yang baik dalam mempebaiki sistem kerja sarafnya. 

Anak Anda mulai dapat berenang setelah usia 2-3 minggu, tapi sebelumnya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter anak Anda.

Banyak orang tua yang memasukkan anaknya di kelas renang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan anak, perkembangannya yang cepat dan harmonis, serta memperbaiki bentuk otot yang berkembang pada tubuh. Berenang dipercaya juga membuat anak cepat tinggi. Selama satu tahun awal kehidupan, anak harus belajar untuk berada di air selama 2-3 menit,  menyelam dan mendapatkan mainan di dasar bak mandi selama 5-8 detik. Ingatlah bahwa dalam kelas renang, seorang anak harus mengikuti aturan seperti: melaksanakan latihan secara bertahap untuk meningkatkan aktivitas fisik, melakukan latihan yang sistematis serta mematuhi segala larangan yang diberikan.

Tetapi terdapat beberapa hal yang perlu diwaspadai saat anak di kolam renang. Overheating, hipotermia, kelelahan dapat menyebabkan seorang anak beresiko di air. Selain itu, sabun dan air yang mengandung klor dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Faktor-faktor ini yang mesti mendapat pengawasan dari orang tua saat mandi dan berenang di kolam renang umum. Jadi berhati-hati dan penuh perhatian saat akan berenang, akan menjauhkan anak dari segala resiko yang tidak diinginkan. Kenali tanda-tandanya yaitu hipotermia ( menggigil, bibir berwarna biru), atau jika anak lelah (terlihat lesu dan kehabisan tenaga) maka sebaiknya berhenti berenang. 

Biarkan anak-anak anda akan sehat dan bahagia dengan bermain air di kolam renang tetapi tetap memperhatikan keselamatan si buah hati. 

Cara Berkomunikasi Yang Salah Kepada Anak

Apakah si buah hati sering tak menuruti kata-kata anda? Mungkin timbul pertanyaan dalam hati, apakah ia memang tidak mau menuruti atau ia malah tidak paham apa yang anda sampaikan. Jangan langsung menyalahkan si buah hati dengan perkataan nakal, suka membantah, atau lain sebagainya. Mungkin sekali cara berbicara andalah yang menjadi penyebabnya. Kalau itu terus diterapkan, maka bisa jadi timbul kesalahpahaman. Si anak bisa berperilaku sering mogok dan ngambek. Bahkan boleh jadi mempengaruhi perkembangan bicara dan kecerdasan anak.

Berikut adalah beberapa cara keliru yang sering dilakukan oleh orangtua dalam berkomunikasi dengan si buah hati. 
  1. Orang tua berbicara dengan formulasi kalimat yang rumit dan bertele-tele. Pernahkah anda berkata kepada si buah hati "Kakak, Sudah dong, jangan ganggu adikmu! nanti bunda tidak senang kepada kakak kalau kakak tidak berhenti mengganggu adik bayi. Adik bayi akan menangis terus kalau diganggu". Jangankan anak, orang dewasa pun akan bingung dan heran jika tak benar benar menyimak perkataan anda tadi.  Cukup ambil intinya saja. Katakan " Kakak, tolong berhenti mengganggu adik." dan saat mengatakan, cobalah tatap mata anak dan mintalah ia memusatkan perhatian pada apa yang anda katakan. Karena anak lebih mudah memahami kalimat sederhana, maka katakanlah yang inti saja.
  2. Berbicara terlalu cepat dan tanpa intonasi. Kesalahan yang sering dilakukan adalah berbicara terlalu cepat dan tanpa intonasi. Semua dikatakan dengan intonasi tinggi atau sebaliknya. Sehingga balita menjadi bingung dengan inti pesan yang disampaikan. Agar bisa berbicara efektif kepada balita, sebaiknya kata diucapkan perlahan, tegas dan berintonasi. Misalnya, mengajak balita mandi karena hari sudah sore.  "Sudah sore. Adik, kita mandi yuk !" Penekanan pada kata "mandi" akan membuat balita lebih mudah menangkap pesan anda. "Mandi, yuk !" "Mandi...," demikian biasanya jawaban si kecil terhadap kalimat yang memiliki penekanan pada kata "mandi".
  3. Informasi yang diberikan terlalu padat dan banyak. Ketika anda hendak menyampaikan sebuah pesan penting, mungkin saja saatnya tidak tepat. Contohnya, ketika anda sedang bertamu ke rumah seorang kerabat yang senang mengoleksi berbagai wadah kristal. Lalu, si kecil berulah dengan mencoba merebut perhatian orang-orang yang baru dijumpainya. Tentunya perasaan gregetan akan dirasakan oleh orangtua terhadap anak tersebut. Sehingga kata-kata yang keluar dari mulut orangtua biasanya omelan yang tiada mengenal tanda "titik" atau "koma". Apalagi kalau disampaikan pada saat anak tersebut berlari kesana kemari. Tentu komunikasi yang terjadi tidak akan efektif.
  4. Terlalu sering menggunakan kata dan perintah. Kesalahan orang tua pada umumnya adalah ketika waktu yang tersedia sagat singkat dan kesabaran sudah habis, kalimata perintah atau instruksi akan sering anda ulang. Mengulang ulang sebuah ujaran, instruksi atau larangan, akan sangat berbahaya bila tidak siap dengan sikap antisipatif dengan perilaku anak yang bersifat menguji. Cukup katakan sekali saja, dengan tegas, singkat, dan suara yang lembut dalam situasi yang tepat agar si kecil siap menerima pesan. Tak perlu dengan suara yang besar dan dapat menimbulkan rasa takut. Cara itu malah bisa membuat bayi menjadi takut dan tak mengerti maksud anda. 

4 Permainan Untuk Mengembangkan Motorik Anak


Bermain sambil mengembangkan kemampuan motorik melalui berlari, melompat dan memanjat bisa dilakukan sekaligus. Anda dapat melakukan 4 cara melatih kemapuan anak yang merupakan hasil pengembangan Rachel Rudman seorang terapis sekaligus dokter anak dari cedarhust New, York. Permainan skill builders ini untuk anak usia 18 bulan keatas

Bermain Follow Me
Lakukan sebuah pose, lalu semangati anak anda agar meniru gerakan tersebut. Mulai dari gerakan sederhana - Berdiri lurus dengan tangan direntangkan ke udara. lalu mulai dari gerakan itu angkat satu kaki ke lutut. Pegang pinggang dan Condongkan badan ke kiri atau kekanan. Usahakan satu tangan menyentuh jari kaki. Begitu anak berhasil menirukan, ganti dengan kaki yang satu.

Geleng dan Berlenggang
Ini adalah permainan yang cocok untuk melepas energi anak yang berlebihan. Berdiri di depannya dan lakukan gerakan bergoyang, meliuk-liuk, berlenggang dan memintanya meniru dan melakukan gerakan seperti anda. " Ayo kita bergoyang" sambil terus bergoyang. Jadikan ia seperti wiggler (orang yang terus saja bergerak) kemudian masuk ke gerakan santai. "Ahhh, sekarang kita semua santai" untuk melakukan istirahat sejenak.

Meletus Seperti Popcorn
Anda disini bermain sebagai microwave sedangkan si anak sebagai popcorn. Ketika anda bertepuk tangan (Popp), anak anda harus melompat seperti berondong jagung dalam microwave. seperti gerakan popcorn, dimulai dari lambat, semakin cepat ke segala arah, cepat dan akhirnya lambat kembali. Permainan ini melatih skill gerak anak dan mengenal tempo gerakan sesuai bunyi.

Sesuai Dengan Angka
Umumkan sebuah gerakan, atau berputar atau semacamnya, lalu lemparlah sebuah dadu. Lalu hitunglah angka yang mucul di dadu. Anak akan belajar tentang Angka. lalu suruhlah ia melakukan gerakaan itu sesuai dengan berapa nilai yang mucul pada dadu.  Begitu dia selesai, buat gerakan baru dan melempar lagi dadu. Lakukan dengan setiap gerakan baru yang unik bagi anak.

Buah Hati Berkenalan Dengan Dokter Gigi


Agar anak terbiasa merawat giginya, ada baiknya mengenalkan dengan dokter gigi sejak usia 2 tahun. Perawatan berkala sebaiknya dilakukan dua hingga tiga kali setahun. Merawat gigi anak pada usia muda menjamin kesehatan gigi untuk seterusnya. Terlebih lagi pada masa pergantian gigi, yaitu usia 6 - 12 tahun. Dengan pengawasan oleh dokter gigi, hal itu bisa mencegah hal yang tidak diinginkan. Banyak orang dewasa yang kini menderita akibat kelalaian orang tuanya. Kelainan gigi dan sebagian bentuk muka disebabkan oleh kebiasaan yang kurang bagus yang bisa menyebabkan gejala psikoneuretik atau rasa rendah diri.

Lagi-lagi, merawat gigi anak lebih baik dari pada mengobati. Apabila melihat lubang pada gigi anak, jangan menunggu, segera bawa ia kedokter gigi. sekalipun itu adalah gigi susu yang akan terganti nantinya. Sebab kerusakan pada gigi susu akan berdampak pada perkembangan gigi permanennya.

Berikut adalah hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam memperkenalkan seluk beluk gigi dalam kehidupan si anak :

Jangan menunggu sampai sakit gigi.
Disarankan untuk memperkenalkan si kecil dengan dokter gigi walaupun giginya tidak sakit.  Perkenalkan ia dengan perawat, peralatan, dan ruang praktik. Suasana yang enak akan membuat si kecil nyaman. Minta dokter untuk menjelaskan semua tentang gigi termasuk perawatan dan kerusakannya. Itu agar tercipta hubungan emosional nantinya.

Jangan menakut-nakuti si kecil.
Banyak orang tua yang tidak sengaja, sering menakuti si buah hati jika rewel."Awas yang nanti kalau adik nakal, pasti disuntik dokter". Hal ini akan membuat anda kesulitan bila harus berurusan dengan dokter, rumah sakit dan obat. Dalam mendidik anak, tidak diperbolehkan  dengan cara membohongi dan menakuti anak seperti yang sering dilakukan oleh orang awam.

Carilah Dokter Gigi yang ramah.
Jika di kota anda terdapat banyak dokter, carilah yang ramah yang dapat menyenangkan si balita. Jangan sungkan untuk berganti dokter jika pelayanannya kurang memuaskan. Perlakuan yang bersahabat terhadap pasien tentu saja akan memberikan perasaan sehat walaupun si pasien dalam keadaan sakit. Apalagi terhadap anak kecil yang perasaannya sangat sensitif.

Hindari Sekaligus mencabut gigi. 
Jika gigi si buah hati berlubang lebih dari satu. Janganlah langsung meminta dokter untuk mencabutnya sekaligus ketika berada di ruang praktik. Jangan hanya karena ingin menghemat ongkos transport ke dokter gigi, tetapi justru akan membuat trauma bagi si kecil. Cabutlah satu persatu dan beri cukup waktu yang cukup lama misalnya seminggu agar perasaan si kecil tidak merasa takut.

Beri penjelasan yang jelas
Semakin jelas dan langsung pada intinya ketika memberikan informasi kepada si buah hati akan membantu mengurangi daya imajinasinya. "Gigi kakak harus dicabut karena berlubang. Dokter Bulan pintar melakukannya. Memang agak sedikit sakit. Nanti dokter Bulan akan mencabutnya dengan hati-hati. Supaya kakak cepat sembuh dari sakit gigi "

Tips Awal Selamat Dari Penculikan Anak


Bermain di luar rumahtentulah sangat mengasyikkan bagi anak-anak. Tetapi orang tua hendaklah tidak melepas begitu saja pengawasan kepada anak saat bermain diluar. Karena dijaman sekarang, banyak kejadian penculikan dan kehilangan anak.

Membekali anak dengan pengetahuan perlindungan diri memang sangat diperlukan. Agar kejadian yang tidak diinginkan dapat dihindari. Berikut ini beberapa tips keselamatan anak bila bermain di luar rumah : 
  • Hal awal yang mesti dilakukan adalah membekali anak dengan pengetahuan alamat rumahnya, nomor telepon penting, sekolahnya dan juga memastikan ia mengingat nama seluruh anggota keluarganya. Perlu juga mengajarinya bagaimana ke tempat informasi untuk bertanya jika tersesat atau ke pos polisi. Bila di tanyakan namanya, maka harus juga menyebutkan nama orang tuanya dan dimana tempat bekerja mereka. Agar informasi identitas anak dapat dengan mudah diketahui kalau ada orang yang menemukannya sedang tersesat. 
  • Mengajarinya menggunakan telepon umum atau meminta bantuan. Jika dalam keadaan tersesat di tempat yang ramai maka anda harus menetapkan tempat pertemuan yang telah disepakati. Misalnya di tempat parkir. 
  • Waspada terhadap orang asing yang akan mengajak pergi atau jalan-jalan. Katakan pada anak anda untuk menjauhi orang asing yang memberikan sesuatu. Atau jika bertemu dengan orang asing hendaknya tidak terlalu berbicara banyak. Jika sebuah mobil berhenti di dekat dia. Ajarilah untuk menjauh. Da jika ia merasa diikuti maka segera berlari ketempat umum yang banyak orangnya. Agar ia dapat berteriak keras jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. 
  • Hendaklah orang tua menyempatkan untuk meluangkan waktu mempelajari aktivitas keseharian anaknya. Kemana ia sering bermain, dimana tempat belajar favoritnya, rute yang sering dilalui ketika pergi ke sekolah, kursusatau bermain. Dengan teman teman manakah ia sering bersama. Sehingga jika ada sesuatu, maka anda sudah tahu harus mencari kemana. 
  • Ingatkan anak anda untuk harus selalu berjaga-jaga. Ajarkan mereka untuk melihat-lihat, mendengarkan dan mempercayai naluri mereka. Jelaskan bahwa rasa takut adalah reaksi yang baik dan naluri adalah cara terbaik untuk mendeteksi dan menghindari bahaya. Dia harus percaya instingnya.